Biaya Operasional Harian EV Bekas vs Mobil Bensin Setara: Perbandingan Realistis
Tuesday, 22 Sep 2026
Kalau kamu sedang bingung memilih mobil bekas, pertanyaan ini mungkin sering muncul, apakah biaya operasional mobil listrik bekas benar benar lebih hemat atau cuma terlihat menarik di brosur. Jawabannya tidak sesederhana anggapan listrik pasti lebih murah dari bensin, karena banyak variabel yang memengaruhi mulai dari cara mengisi daya sampai jarak tempuh harian.
Besarnya biaya operasional ini bisa dilihat lebih realistis lewat angka, memakai asumsi tarif listrik dan harga BBM terbaru September 2026, serta simulasi pemakaian 1.000 sampai 2.000 kilometer per bulan. Perhitungan ini membantu memberi gambaran biaya yang perlu disiapkan sebelum memutuskan membeli.
Komponen Biaya Harian yang Perlu Dibandingkan Secara Adil
Perbandingan biaya ev dan mobil bensin harus dilakukan lewat pendekatan Total Cost of Ownership yang dibagi ke porsi harian, supaya kamu tidak terjebak ilusi harga beli murah padahal biaya operasionalnya membengkak, atau sebaliknya. Beberapa komponen berikut wajib masuk hitungan sebelum membandingkan kedua jenis mobil ini. a.
Biaya Energi: Bahan Bakar vs Listrik per Kilometer
Biaya mobil bensin dihitung dari rata-rata konsumsi harian, misalnya 1 liter untuk 10–12 km, dikalikan harga BBM per liter. Biaya per kilometer berkisar Rp1.000–Rp2.400, tergantung jenis BBM dan kondisi lalu lintas.
Sementara itu, mobil listrik dihitung berdasarkan kWh yang terpakai per kilometer. Jika mengisi daya di rumah (home charging), biayanya jauh lebih murah, sekitar Rp200–Rp250 per km, tetapi penggunaan SPKLU fast charging secara rutin dapat membuat biaya mendekati mobil bensin.
Biaya Servis dan Perawatan Berkala
Mobil bensin punya lebih banyak komponen mekanis sehingga butuh penggantian oli, busi, filter, dan cairan pendingin secara rutin, membuat biaya perawatan tahunannya cenderung lebih tinggi. Mobil listrik punya lebih sedikit komponen bergerak dan tidak butuh oli mesin, sehingga biaya perawatan rutinnya lebih rendah, dan ini jadi salah satu keunggulan yang sering terlupakan.
Pajak Kendaraan dan Legalitas (STNK)
Mobil bensin dikenakan pajak kendaraan bermotor normal sesuai tahun dan tarif progresif, sementara mobil listrik di Indonesia banyak mendapat insentif pemerintah seperti pembebasan atau diskon besar pajak dan bea balik nama untuk tahun tahun awal kepemilikan. Selisih ini bisa jadi penghematan jutaan rupiah per tahun yang layak masuk dalam hitungan biaya operasional.
Depresiasi dan Komponen Jangka Panjang (Amortisasi Harian)
Harga beli dan penyusutan perlu diperhitungkan karena harga awal mobil listrik bisa lebih tinggi dibanding mobil bensin sekelasnya. Selisih nilai tersebut dapat dihitung sebagai depresiasi selama masa penggunaan agar biaya kepemilikan terlihat lebih realistis.
Penggantian baterai juga perlu diperhitungkan dalam biaya jangka panjang. Meski baterai EV umumnya memiliki garansi panjang, sekitar 8–10 tahun, estimasi biaya penggantiannya tetap perlu diperhitungkan, terutama jika membeli EV bekas dengan sisa garansi terbatas.
Biaya Energi: Charging di Rumah, SPKLU, dan Bensin per 100 Km
Perbandingan estimasi biaya energi untuk menempuh jarak 100 kilometer (Km) antara pengisian daya di rumah, SPKLU PLN, dan mobil bensin berkisar antara Rp25.500 hingga Rp135.000. Angka ini jadi dasar paling konkret untuk memahami seberapa besar biaya charging mobil listrik per bulan bisa menghemat dompetmu dibanding isi bensin.
Charging di Rumah (Home Charging)
Asumsi konsumsi energi: rata-rata mobil listrik membutuhkan 15 kWh untuk menempuh jarak 100 Km. Asumsi tarif listrik: tarif rumah tangga non-subsidi (daya 3.500 VA ke atas) sekitar Rp1.699,53 per kWh (berlaku September 2026). Perhitungan: 15 kWh × Rp1.699,53 = Rp25.493 per 100 Km. Ini adalah skenario paling ideal dan paling sering direkomendasikan untuk memaksimalkan.
Charging di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum)
Asumsi konsumsi energi: 15 kWh untuk jarak 100 Km. Asumsi tarif SPKLU: tarif dasar pengisian SPKLU PLN sekitar Rp2.475 per kWh (belum termasuk biaya layanan tambahan per sesi jika menggunakan fast charging atau ultrafast charging). Perhitungan (tarif dasar): 15 kWh × Rp2.475 = Rp37.125 per 100 Km (bisa sedikit lebih tinggi jika ditambah biaya administrasi/layanan cas cepat). Masih lebih hemat dari bensin, tapi tidak sedramatis home charging.
BBM Bensin (Mobil Konvensional / ICE)
Asumsi konsumsi BBM: rata-rata mobil bensin menempuh 12 Km per liter (pemakaian kombinasi). Kebutuhan bensin per 100 Km: 100 Km ÷ 12 = 8,33 liter. Asumsi harga BBM: Pertamax (RON 92) sekitar Rp15.950 per liter (harga terbaru September 2026 di wilayah Jawa). Perhitungan: 8,33 liter × Rp15.950 = sekitar Rp132.864 per 100 Km. Angka ini jadi patokan realistis untuk perbandingan biaya ev dan mobil bensin dalam konteks harian.
Ringkasan Perbandingan per 100 Km
| Metode Pengisian | Estimasi Biaya per 100 Km | Tingkat Kehematan |
| Charging di Rumah | Rp25.493 | Paling hemat (±5x lipat dibanding bensin) |
| SPKLU (Publik) | Rp37.125 | Sangat hemat (±3,5x lipat dibanding bensin) |
| Bensin (BBM Pertamax) | Rp132.864 | Standar konvensional |
Biaya Perawatan Berkala: Apa yang Hilang dan Apa yang Muncul di EV
Biaya perawatan berkala mobil listrik (Electric Vehicle / EV) rata-rata 30% hingga 50% lebih murah daripada mobil bensin karena jumlah komponen bergeraknya jauh lebih sedikit. Ini bukan cuma soal “tidak ganti oli”, tapi perubahan fundamental dalam filosofi perawatan kendaraan.
Apa yang Hilang di Mobil Listrik (EV)?
Mobil listrik tidak memiliki mesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine), sehingga banyak komponen rutin pada mobil bensin tidak lagi diperlukan. Tidak ada oli mesin dan filter oli, busi, filter udara mesin, filter bahan bakar, serta sistem knalpot seperti catalytic converter.
EV juga tidak menggunakan kopling atau girboks kompleks seperti mobil konvensional. Berkurangnya komponen tersebut membuat kebutuhan servis rutin lebih sedikit dan membantu menekan biaya operasional.
Apa yang Muncul atau Berbeda di Mobil Listrik (EV)?
Meskipun komponen mesin berkurang, EV tetap membutuhkan perhatian pada sistem kelistrikan dan pendingin. Perawatan mencakup pemeriksaan coolant, pengecekan kesehatan baterai (State of Health) dengan alat diagnosis, serta pembaruan software untuk menjaga kinerja kendaraan.
Sistem pengereman regeneratif membuat kampas rem lebih awet, tetapi cairan rem tetap perlu diperiksa secara berkala. Perawatan ini umumnya bukan biaya besar, tetapi tetap perlu dijadwalkan agar kondisi komponen utama tetap terjaga dalam jangka panjang.
Simulasi Pemakaian 1.000 Km dan 2.000 Km per Bulan

Sumber: Asset
Biaya operasional mobil listrik bekas (EV) jauh lebih murah dibandingkan mobil bensin konvensional, dengan penghematan energi mencapai 70% hingga 80%. Tapi seberapa besar angka ini dalam rupiah? Mari kita simulasikan dengan angka realistis berdasarkan tarif listrik dan harga BBM terbaru September 2026.
Asumsi Perhitungan
Mobil listrik (EV): Rata-rata konsumsi energi 0,15 kWh per km atau 15 kWh per 100 km. Dengan home charging menggunakan tarif listrik Rp1.699,53 per kWh, biaya energinya sekitar Rp255 per km.
Mobil bensin (ICE): Rata-rata konsumsi BBM 1 liter untuk 12 km (1:12). Dengan Pertamax seharga Rp15.950 per liter, biaya bahan bakarnya sekitar Rp1.329 per km. Asumsi ini menjadi dasar perbandingan biaya energi antara EV dan mobil bensin.
Simulasi Pemakaian 1.000 Km per Bulan
Untuk melihat hemat mana mobil listrik atau bensin, gunakan contoh pemakaian 1.000 km per bulan.
Mobil listrik (EV): kebutuhan energi 1.000 km × 0,15 kWh = 150 kWh, sehingga biaya bulanan 150 kWh × Rp1.699,53 ≈ Rp254.930.
Mobil bensin: kebutuhan BBM 1.000 km ÷ 12 km/liter = 83,3 liter, dengan biaya 83,3 liter × Rp15.950 ≈ Rp1.328.635. Artinya, EV berpotensi menghemat sekitar Rp1.073.705 per bulan atau 81% dibanding mobil bensin untuk pemakaian moderat.
Simulasi Pemakaian 2.000 Km per Bulan (Mobilitas Tinggi)
Untuk mobilitas tinggi hingga 2.000 km per bulan, mobil listrik (EV) membutuhkan energi 300 kWh. Dengan tarif Rp1.699,53 per kWh, biaya charging mobil listrik per bulan sekitar Rp509.859.
Mobil bensin membutuhkan sekitar 166,6 liter BBM untuk menempuh jarak yang sama. Dengan harga Rp15.950 per liter, biaya bulanannya mencapai sekitar Rp2.657.270. Artinya, EV berpotensi menghemat sekitar Rp2.147.411 per bulan.
Ringkasan Perbandingan Biaya Energi
| Jarak Tempuh | Biaya Mobil Listrik (EV) | Biaya Mobil Bensin | Penghematan per Bulan |
| 1.000 Km / Bulan | Rp254.930 | Rp1.328.635 | Rp1.073.705 |
| 2.000 Km / Bulan | Rp509.859 | Rp2.657.270 | Rp2.147.411 |
Titik Impas: Berapa Lama Selisihnya Menutup Harga Beli
Titik impas atau Break-Even Point (BEP) untuk menutup selisih harga beli mobil listrik (EV) yang lebih mahal dibandingkan mobil bensin di Indonesia rata-rata tercapai dalam waktu 5 hingga 10 tahun. Waktu ini sangat bergantung pada seberapa jauh jarak yang ditempuh mobil setiap harinya serta besarnya selisih harga beli awal kedua mobil tersebut. Ini jadi pertimbangan krusial saat menilai biaya operasional mobil listrik bekas dalam jangka panjang
Perbandingan Biaya Operasional (Listrik vs Bensin)
Mobil listrik memang memiliki harga beli awal yang lebih tinggi, tetapi biaya penggunaannya cenderung lebih rendah. Perbedaannya terlihat pada beberapa komponen berikut.
| Komponen | Mobil Listrik | Mobil Bensin |
| Biaya energi per km | Rp188–Rp255 | Rp1.000–Rp2.400 |
| Pajak tahunan | Bisa 80–90% lebih murah di daerah tertentu | Tarif normal |
| Biaya servis | 40–50% lebih hemat | Lebih tinggi |
| Potensi hemat per tahun | Rp12–15 juta | — |
Simulasi Waktu Titik Impas (BEP)
Dengan asumsi penghematan biaya operasional sebesar Rp15 juta per tahun, estimasi waktu titik impas berdasarkan selisih harga beli dapat dilihat berikut.
| Selisih Harga Beli | Penghematan per Tahun | Estimasi Titik Impas | Cocok Untuk |
| Rp50–75 juta | Rp15 juta | 3–5 tahun | City car EV, pemakaian harian >50 km |
| Rp100–150 juta | Rp15 juta | 7–10 tahun | SUV/MPV EV, pemakaian campuran |
| >Rp200 juta | Rp15 juta | >10 tahun | EV premium, pemakaian rendah |
Semakin besar selisih harga beli, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Perhitungan ini bisa menjadi acuan untuk menilai apakah mobil listrik worth it sesuai pola pemakaian.
Faktor yang Mempercepat atau Memperlambat Titik Impas
- Jarak tempuh: Penggunaan di atas 50 km per hari dapat mempercepat BEP hingga di bawah 4 tahun, sedangkan pemakaian akhir pekan membuatnya lebih lama.
- Tempat pengisian daya: Home charging lebih murah dibandingkan SPKLU komersial sehingga BEP lebih cepat.
- Nilai jual kembali: Mobil listrik bekas cenderung mengalami depresiasi lebih cepat dibanding mobil bensin karena kekhawatiran terhadap usia pakai dan harga baterai.
Baca Juga:
- Infrastruktur Pengisian Daya di Sekitar Rumah: Cek Ini Sebelum Memutuskan Beli EV Bekas
- Hybrid Bekas untuk Pemula: Yang Berbeda dari Merawat Mobil Konvensional
Bandingkan Langsung Kedua Opsinya di Belanja Mobil
Hitungan operasional harian sering lebih menentukan daripada harga beli. Kalau kamu sudah yakin EV bekas lebih cocok untuk gaya hidup dan rute harianmu, saatnya bandingkan unit bensin dan listriknya secara langsung.
Di Belanja Mobil, kamu bisa filter berdasarkan merek, tahun, harga, bahkan lokasi untuk melihat mana yang benar-benar masuk akal untuk biaya operasional mobil listrik bekas dalam jangka panjang. Jangan lupa cek riwayat servis dan sisa garansi baterai karena keduanya menjadi penentu penting nilai EV bekas di masa depan.
Hitungan operasional harian sering lebih menentukan daripada harga beli. Bandingkan unit bensin dan listriknya di Belanja Mobil